Artikel

BELAJAR DARI BAPAK TUA

10
DES
2013
Penulis: Desimon
Dibaca: 1449 kali

Belajar dari Bapak Tua

Pada hari senin kemarin, tanggal 9 Desember 2013, saya bertamu ke rumah seseorang yang sudah cukup berumur, yaitu sekitar 78 tahun. Kami banyak bercerita berbagai hal, tetapi yang paling berkesan adalah pembahasan bagaimana Bapak tersebut saat ini bisa memiliki tanah yang luas dan rumah kontrakan yang banyak. Saya berusaha bertanya terus, dengan maksud ingin mengambil hikmah dari perjalan hidup Bapak.

Sambil disuguhi kopi hitam panas, Bapak bercerita bahwa dia waktu kecil bekerja menjaga ternak kerbau atau sapi, dia tidak bisa bersekolah, bahkan SR (sekolah rakat) setingkat SD saja dia tidak dapat menyelesaikannya. Bapak juga berusaha masuk pesentren, tetapi tetap saja, tuntutan hidup membuat dia tidak bisa menyelesaikannya.

Tetapi, Bapak ini sudah tiga kali pergi berhaji ke Mekkah dan hampir tidak mengeluarkan biaya. Kenapa bisa terjadi? Ternyata Bapak tua ini punya kelebihan bahwa dia sangat mudah mempelajari suatu bahasa. Untuk itu, kebetulan Bapak pernah hidup disekitar warga Arab, sehingga dalam waktu cepat Bapak cukup lancar berbahasa Arab. Dengan modal ini, kemudian Bapak diminta untuk memimpin rombongan Haji. Intinya, hanya dengan kemampuan bahasa Arab yang cukup lancar, Bapak bisa naik haji gratis sampai tiga kali.

Namun topik yang lebih menarik bagi saya adalah bagaimana Bapak bisa menjadi orang kaya. Dengan sedikit teknik interview, akhir Bapak bercerita bahwa bagi dia setiap rupiah yang dimiliki harus dipergunakan sebaik-mungkin dan dibelikan tanah. Bapak rela tidak hidup bermewah-mewah bahkan sampai saat ini, dia hanya bersedia membeli sepeda motor bekas untuk alat transportasi harian, dan, sangat tidak setuju untuk membeli mobil. Bapak punya alasan yang kuat yaitu harga motor dan mobil akan selalu turun, sementara harga tanah akan selalu naik. Pernyataan ini bagi saya sangat bermakna bahwa ternyata untuk mengerti ilmu investasi tidak harus sekolah tinggi, tetapi sangat bergantung kepada karakter orang tersebut. Seorang Bapak tua yang tidak tamat SD bisa menganalisa dan memutuskan bagaimana dia harus menginvestasikan uangnya sehingga memperoleh keuntungan yang besar.

Saya juga bertanya bagaimana Bapak membiaya hidupnya jika semua uangnya dibelikan tanah. Bapak menjawab bahwa dia memiliki tanah sawah yang menghasilkan padi per tahun sekitar 8 ton, dari hasil inilah Bapak membiayai hidupnya. Tanah sawah tersebut adalah juga bagian dari investasi Bapak. Tapi, sekarang sudah banyak yang dijual, karena harga tanah sudah tinggi dan Bapak sudah untung berlipat-lipat. Lalu saya bertanya, uang hasil jual tanah dikemanakan? Jawaban Bapak juga mengagetkan saya, dia bilang saat ini dia sedang membangun rumah kontrakan sekitar 20 buah. Bapak sudah menghitung bahwa uang hasil kontrakan tersebut lebih besar dibanding hasil padi yang dia peroleh per tahun, bahkan lebih tinggi dibanding uang pensiunan pegawai negeri . Saya jadi ingat teman saya, yang besar di pasar modal, saat ini teman saya tersebut sedang gencar-gencarnya membangun rumah kontrakan di sekitar kampus. Teman saya menyebutnya sebagai passive income, Bapak tua menyebut sebagai uang pensiun.

Dari uraian di atas, saya simpulkan, bahwa untuk kaya dan sukses berinvestasi sangat tergantung kepada karakter orang tersebut . Namun, kondisi ideal untuk sukses dalam investasi adalah berpendidikan tinggi, memiliki karakter yang benar dan berpengalaman.

Kategori: Umum
Publikasi: desimon
Bagikan :
© 2011 - 2018 by emiten.net.